BeritaKESEHATANNasional

” INDONESIA TERSERAH ” BENTUK KEKECEWAAN MASYARAKAT DAN TENAGA MEDIS DALAM MENANGANI COVID-19

JAKARTA, jarrakpossulbar.com | Selamat pagi Mas Didik. Mohon komentarnya atau pendapatnya soal viral di media sosial “Indonesia terserah” kekecewaan masyarakat maupun tenaga medis terhadap kondisi penanganan Covid-19?

Berikut tanggapan Didik.Mukrianto selaku Anggota Komisi III DPR.RI :

“Saya sangat memahami kerisauan tenaga medis tersebut, mengingat bahwa pengabdian dan perjuangan para dokter, tenaga medis dan relawan medis berada dalam garda terdepan dalam penanganan Covid-19. Mereka menyadari sepenuhnya resiko yang mereka hadapi. Mereka juga sangat menyadari akan berpotensi terpapar Covid-19. Namun untuk negara, untuk pemerintah, untuk kemaslahatan bersama, untuk kepentingan rakyat, mereka mengambil resiko itu meskipun kesehatan dan nyawa mereka taruhannya,”ujar dia,

Sebagaimana diketahui, dengan kondisi penyebaran Virus Covid-19 yang belum terkendali, dan vaksin belum ditemukan, maka upaya yang paling efektif adalah pembatasan sosial dan menghindari kerumunan, selain menerapkan protokol Covid-19 lainnya di satu sisi, dan mengobati yang terpapar di sisi lain. Terbukti di beberapa negara bahwa tidak ada upaya yang lebih efektif, kecuali itu.

Dengan kekawatiran dan himbauan pemerintah yang didasarkan kepada kekawatiran akan bahayanya Covid-19 dengan terus meminta masyarakat u/ melakukan pembatasan sosial di satu sisi, dan di sisi lain, kebijakan pemerintah serta pernyataan Presiden yang bisa dianggap tidak konsisten dan cenderung membingungkan yang dibalut dengan istilah-istilah penggunaan kata yang menimbulkan perdebatan publik, saya sangat memahami kalau para dokter, tenaga medis dan relawan kesehatan merasa risau, betapa sakit perasaan dan psikologis mereka. Tidakkah pemerintah, tidakkah Presiden memahami resiko nyawa yang di hadapi oleh mereka?

Sungguh tidak lucu apabila ada pemimpin yang menganggap bahaya Covid-19 hanya lelucon belaka, di saat semua rakyatnya sedang menghadapi derita akibat Covid-19.

Pemimpin itu di gugu dan ditiru, omongan dan kebijakannya tidak boleh mencla-mencle. Jangan sampe pagi dele, sore tempe. Pemimpin harus bijak, tegas, pas dan proper dalam membuat kebijakan, dan pastikan selalu bertumpu kepada kepentingan rakyatnya apapun kondisi dan alasannya.

Sumber : Didik Mukrianto

Editor : SF

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close